Minggu, 12 Agustus 2012

Mudik sebagai simbol metafisik-pada akhirnya kembali ke asal

Tinggal menghitung hari kita akan meninggalkan bulan suci Ramadan. Sebagaimana dalam tradisi masyarakat muslim di Indonesia, menjelang lebaran Idul Fitri mereka akan disibukkan dengan mudik ke kampung halaman.

Mudik adalah fenomena masyarakat urban, mereka yang selama ini mengais rezeki di perantauan akan pulang kampung untuk berlebaran. Mudik menyiratkan fenomena “kembali” (coming back), dalam arti sejauh-jauhnya manusia pergi toh akan kembali jua, termasuk kembali dalam arti spiritual atau dalam peristiwa kematian.

Mudik memang juga menyimbolkan fenomena “metafisik”, dalam arti sejauh-jauhnya orang melakukan pengembaraan, pada akhirnya akan kembali ke habitatnya sebagai manusia, makhluk ciptaan Tuhan. Mudik bukan sekadar fenomena sosiologis biasa, sebab jika hanya fenomena sosiologis, pertanyaannya mengapa orang harus pulang kampung di hari-hari menjelang lebaran? Belum lagi ada pelbagai risiko, di mana pada saat itu bukan hanya segelintir orang, melainkan jutaan orang yang pulang kampung.

Itu menandakan bahwa mudik bukan sekadar fenomena sosiologis. Ada spirit religiusitas di mana orang berkeinginan keras untuk pulang kampung, dan ada satu titik perasaan di mana tak menghendaki penjelasan rasional ketika banyak orang melakukan mudik untuk berlebaran, melakukan maaf-maafan di kampung halaman mereka.
Bagaimana mungkin orang yang tak punya salah lalu meminta maaf? Bagaimana untuk menjelaskan orang yang tak pernah bertemu dengan kerabatnya dalam satu tahun, misalnya, lalu kemudian dianggap satu dan lainnya memiliki kesalahan sehingga harus bermaaf-maafan?
Ada wilayah yang diistilahkan Mircea Eliade (1999) sebagai teritori sakral dalam suatu tradisi keagamaan. Serasional apa pun seorang muslim, ketika pada hari-hari menjelang lebaran kemudian tak pulang atau mudik, maka akan bersedih hatinya. Atau paling tidak, ada suatu perasaan mengganjal di mana dirinya ingin pulang kampung menemui keluarga.

Dalam ranah sosiologis, fenomena seperti mudik dan bermaaf-maafan, dapat juga dijadikan sebagai satu variabel untuk mengukur tingkat religiusitas seseorang. Sebab salah satu konsep religiusitas dalam metodologi penelitian, misalnya, model Glock dan Stark (1989) adalah mempertanyakan apa yang diistilahkan sebagai keterlibatan ritual (ritual involvement), yaitu tingkat sejauh mana seseorang terlibat mengerjakan ritual-ritual tradisi keagamaan mereka, dan juga keterlibatan secara konsekuen (consequential involvement), yaitu tingkatan sejauh mana perilaku seseorang konsekuen dengan tradisi ajaran agamanya.

Ada spirit religiusitas di mana mudik kemudian menjadi simbol keagamaan. Mudik tak selalu melakukan perjalanan pulang kampung. Sebab ia bisa berarti bentuk simbolik di mana manusia ingin kembali. Dalam kasus tertentu, ada keluarga-keluarga yang tak punya sanak-keluarga di luar wilayahnya. Atau mungkin juga antarkeluarganya sudah menetap di satu wilayah tertentu, seperti di Jakarta semua, misalnya, ketika datang fenomena lebaran, mereka saling berkumpul. Secara fisik, mereka tak melakukan mudik dalam arti pulang kampung. Namun di sana, mudik berarti saling menemui sanak-keluarga satu dengan lainnya.

Tradisi mudik, lebaran dan maaf-maafan, sudah merupakan tradisi di Indonesia. Itu merupakan suatu kelangkaan dan kekayaan budaya tersendiri, karena pada saat yang sama, belum tentu, atau tak mungkin di negara-negara lainnya fenomena seperti itu bisa terjadi. Fenomena mudik yang dilakukan kaum muslim, memberi gambaran bagaimana teori-teori perubahan sosial teraktualisasi secara nyata (Peter L. Berger, 2001).

Secara ekonomi, misalnya, tradisi ini bukan hanya sebuah ritual keagamaan namun juga memiliki potensi ekonomi yang luar biasa. Orang yang mudik biasanya membekali dirinya dengan penghasilannya dari tanah rantau bahkan tidak sedikit yang melakukan kegiatan ekonomi di tempat kelahirannya.

Dampak ekonomi yang dihasilkan oleh mudik lebaran demikian besar, tidak terlalu mengherankan kalau fenomena ini ditunggu banyak kalangan. Rezeki lebaran, biasa menyebutnya akan memungkinkan banyak warga meningkat penghasilannya. Efek yang ditimbulkan dari fenomena mudik lebaran merupakan sesuatu yang bisa dihitung secara matematis.

Momentum mudik lebaran hendaknya bisa dijadikan ajang perbaikan ekonomi ke depan, mengingat kehadirannya yang begitu strategis untuk memengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat perdesaan.
Bagaimanapun juga, mudik lebaran tetap menjadi upacara menarik. Dengan demikian, budaya mudik memiliki daya pikat serta daya tarik tersendiri yang luar biasa. Dengan mudik itulah pemudik menjadikan arena bergengsi untuk menunjukkan tampilan yang bercorak metropolis dan sebagainya.
Mudik lebaran tidak hanya ditunggu-tunggu oleh para pemudik itu sendiri, namun juga para pelaku/dunia usaha yang senantiasa mendapatkan berkah luberannya. Meski musiman, para pebisnis yang jeli mempersiapkan diri dengan baik, sehingga bisa optimal pada saat hari H, para pemudik akan membelanjakan uang sebanyak-banyaknya.
Mudik jelas akan menggulirkan perekonomi perdesaan yang di saat biasa jauh dari hingar-bingar. Kawasan perdesaan tempat asal para migran yang mudik lebaran, adalah potret daerah yang sepi dari kegiatan ekonomi menjadi sumringah oleh kegiatan buang-buang uang dari para pemudik.

Ibundaku i'm coming.......Ketupat, buras, ayam lekku, hmmmmmnm

1 komentar: